Akhlak Baik, Sempurnanya Iman

Akhlak baik tidak menuntut seorang punya ilmu tinggi. Tapi akhlak baik adalah cerminan dari ilmu yang berkah. “Seringkali kita temukan seseorang membentak guru atau orang yang lebih tua darinya. Seringkali pula ilmu hanya digunakan sebagai ajang menyombongkan diri. Bahkan ilmu digunakan untuk berdebat,” ujar Muhammad Iltizam Amrullah.

Alumni Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta Angkatan 2009 itu menegaskan bahwa fenomena tersebut tentu memilukan. Bukankah seorang yang berilmu harusnya selinier dengan perbuatan dan sikap yang baik pula?

 

Urgensi Adab

“Pelajarilah adab sebelum kamu mempelajari ilmu,” demikianlah Imam Ahlul Madinah, Imam Malik bin Anas berwasiat.

Imam Malik ingin menekankan kepada murid-muridnya, termasuk ummat Islam untuk beradab sebelum menuntut ilmu. Sehingga banyak manfaat yang akan seorang muslim dapatkan tatkala ia mengambil ilmu dari gurunya.

“Adab adalah melatih diri dengan budi pekerti dan akhlaq yang mulia. Dan Rasulullah shallallaah ‘alayhi wa sallam lah orang yang paling beradab dan memiliki akhlak yang mulia,” tambah dai IKADI Surabaya tersebut.

Sebagaimana diriwayatkan dari Abul Jauza` dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma“Allah tidaklah menciptakan jiwa yang lebih mulia dari jiwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidaklah Allah Ta’ala bersumpah dengan kehidupan seorang pun kecuali dengan kehidupan beliau.”

Adab sangat penting dalam kehidupan ini, baik itu kehidupan secara individu, keluarga maupun bersosial-masyarakat. Dan yang lebih penting lagi adalah adab kepada Allah dan Rasul-Nya. Termasuk padanya saat mempelajari ayat-Nya dan hadits Rasul-Nya.

Dengan adab seorang muslim yang sejati akan menjadi mulia dihadapan Allah dan Rasul-Nya, pun dihadapan manusia.

Bahkan Allah subhaanahu wa ta’aala menjadikan akhlak yang baik sebagai barometer sempurnanya iman seorang hamba. Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Kaum Mukminin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya.” (HR. At-Tirmidzi).

Lantas, urgensi adab adalah untuk menangkis perbuatan-perbuatan buruk. Dimana saat ini banyak kejadian, saat akhlak terpuji telah tertanggalkan dari sebagian besar ummat sekarang ini. Yang muda tak lagi menghormati yang tua. Yang tua tak lagi begitu sayang pada yang muda. Kriminalitas tak hanya terlihat di jalanan.

“Namun telah masuk ke rumah-rumah kita. Entah itu di televisi atau di gadget atau di lingkungan sekitar,” tambah Bapak dua anak tersebut.

Maka, sudah saatnya ummat ini kembali pada apa yang dinasehatkan oleh para ulama salaf (generasi awal), “Pelajari adab dan perbaiki akhlak.” Dengan demikian generasi ummat ini akan lebih santun dalam berucap dan lebih sopan dalam bertindak walau ia berilmu tinggi.

 

Ilmu Amunisi Akhlak

Tak dapat dipungkiri, ilmu merupakan hal yang lazim dibutuhkan bagi setiap Muslim. Karena Islam adalah agama ilmu, tanpa ilmu seseorang tidak akan dapat menjadi Muslim sejati. Karenanya Rasulullah shallallaah ‘alayhi wa sallam pernah mengatakan, “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” (HR. Muslim).

Dengan ilmu, seseorang paham bagaimana cara sholat yang benar, puasa yang benar dan ibadah-ibadah yang lain. “Namun perlu kita ketahui bahwa ilmu akan bermanfaat jika disertai dengan adab,” ungkap Alumni Pesantren Hidayatullah Surabaya tersebut.

Abu Zakariya Yahya bin Muhammad Al-Anbariy rahimahullaah ta’aala berkata: “Ilmu tanpa adab bagaikan api tanpa kayu dan adab tanpa ilmu bagaikan jasad tanpa ruh.” (Kitab Tadzkiratus Saami wal Mutakallim).

Banyak didapati pada masyarakat sekarang ini mereka yang memiliki ilmu tinggi namun sedikit dalam beradab. Mudah membentak guru dan orang yang lebih tua dari-nya. Ilmu dibuat ajang menyombongkan diri dan saling menjatuhkan dengan tujuan pencitraan di hadapan manusia, bukan untuk berkompetisi dalam beramal dengannya.

Apakah demikian dapat dikatakan ilmu manfaat juga barokah? Tentu tidak. Sehingga penting adanya adab pada pribadi-pribadi penuntut ilmu.

Rasulullah shallallaah ‘alayhi wa sallam mengajarkan sebuah do’a agar Allah menganugerahkan akhlak mulia pada diri setiap hamba-Nya. “Ya Allah, tunjukilah padaku akhlak yang baik, tidak ada yang dapat menunjukinya kecuali Engkau. Dan palingkanlah kejelekan akhlak dariku, tidak ada yang memalinggkannya kecuali Engkau.” (HR. Muslim).

“Semoga Allah menjadikan kita hamba yang beradab dan berakhlak mulia. Sebab tingginya ilmu merupakan ajang untuk untuk berkompetisi dalam beramal dan mendapat ridha-Nya,” tutup Da’i Muda Muhammadiyah Surabaya, 26 tahun itu. (susi/wawancara tokoh)

Leave a Reply

Close Menu